>>> RESENSI NOVEL DIARY HITAM PUTIH <<<
DIARY HITAM PUTIH
Seorang pemuda dengan latar belakang
kehidupan yang hitam legam bak malam tanpa bulan ataupun bintang. Sebagian
besar, bahkan seluruh kehidupannya ia habiskan sebagai seorang pecandu minuman
keras yang sering ia sebut tuak komplit, yaitu arak muda dengan bahan dasar
satu-satunya yang terbuat dari campuran air nira siwalan, la’ang, anggur, dan
beras kencur. Riyan namanya. Kebiasaan buruk itu seakan menjadi teman akrabnya.
Kedua orang tuanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa merubah tingkah laku
buruknya, namun rasa takut dan cemas seringkali menghantui kedua orangtuanya,
terutama sang Bapak. Kadang kata-kata mutiara yang sering diungkapakan oleh
sang Bapak masih terngiang dipikirannya, tentang nilai kehidupan ataupun
pedoman. Sang Bapak mencoba memperbaiki porak poranda kehidupannya dengan
mengirimkannya ke pondok pesantren. Waktu itu sang Bapak mengkonsultasikan
masalah yang tengah diderita Riyan kepada seorang Kiyai. “Pak Kiai, Riyan
adalah anak kami satu-satunya.” Itulah kata yang pertama kali diucapkan oleh sang
Bapak di depan orang karismatik yang berpakaian serba putih. Sedikit demi sedikit,
meluncurlah kisah kelamnya dari mulut Sang Bapak. Gemetar suaranya menyayat
hati Riyan, pilu dan ngilu. Tak luput dari penuturannya pula, tentang Riyan
yang suka mabuk-mabukan dengan ramuan la'ang di pedalaman Kangean.
Hari pun berlanjut ketika dirinya
telah menjadi bagian dari pondok pesantren yang terkenal sangat disiplin dan
tegas tersebut. Awal mula ketika ia menginjakkan kaki di pesantren tersebut, ia
hanya bisa diam terpaku menerima kehidupan pondok pesantren yang penuh aturan,
jika dibandingkan dengan kebebasannya ketika berada dilingkungan rumah.
Mu’allim, itulah sebutan bagi para guru ataupun pengurus dipondok tersebut. Beberapa
mu’alim melakukan tugas rutinnya, yaitu membangunkan para santri untuk
melaksanakan shalat tahajud, tak luput pula dengan Riyan. Namun gejolak hatinya
seakan tak mau reda, merasakan hidup terkekang seperti burung dalam sangkar.
Bahkan seorang Mu’allim pun sampai harus menghadapinya dengan rasa emosi dan
sempat terjadi bersitegang diantara para Mu’allim dan Riyan, walaupun akhirnya
dia tak juga beranjak dan tak mau menuruti perintah sang Mu’allim.
Saat itu, sekejap badan ia tersentak
merasakan deru gelombang jiwanya yang binal, serta rasa panas yang menghinggapi
tubuhnya. Badannya pun ambruk digelaran tikar sembari menarik selimut untuk
persembunyian tubuhnya. Rasa panas dan dingin tak henti-hentinya meneror tubuhnya.
Dalam tidurnya ia mengigau dan meronta meminta “minuman”, hal itupun membuat
para teman sekaligus Mu’allim yang saat itu berada di rayonnya merasa bingung,
sampai salah satu dari Mu’allim menanyakan kepadanya tentang “minuman” itu,
namun terus saja ia meracau meminta “minuman” itu.
Hari-hari dipondok berlanjut ketika
rasa terkucil dan rasa dipandang sebelah mata mengusik jiwanya. Semua teman yang
ada dirayonnya seakan takut dan tak menerima kehadirannya karena tingkah laku
aneh dan buruk yang ia tampakkan, walaupun ia adalah seorang santri baru di
ponpes tersebut. Rasa itulah yang semakin membuatnya keras dan seakan tak
peduli pada semua orang yang berada disekitarnya. Bahkan karena ulahnya yang
tak mau menaati aturan itu pun sering mengundang kemarahan sang Ustadz, tak
jarang pukulan hendak didaratkan dipipinya. Namun sekali lagi ia mencoba
menggertak dan mengancam sang Ustadz. Dari sekian banyak teman yang
membencinya, ada beberapa teman yang bisa mengerti keadaannya dan mau menerima
kehadirannya. Adjie, adalah teman sekamar Riyan. Ketika Riyan tengah menghadapi
teror candu minuman tuak itu, dengan sabar dan penuh perhatiannya Adjie
mengantarnya kekamar dan menganjurkannya untuk beristirahat. Berbeda dengan
teman lainnya yang selalu mengolok – olok dan menentang kehadirannya di pesantren
tersebut.
Berbagai masalah dihadapinya, salah
satunya ketika ia mendapatkan tugas menjadi bulis ( petugas penjaga keamanan
rayon), ketika para santri lain sedang melaksanakan tugas. Akan tetapi suatu
kejadian ricuh terjadi dikamar empat, dimana ada salah satu penghuni yang
kehilangan uang tiga puluh lima ribu rupiah. Sehingga tuduhan pun diarahkan
kepada para bulis, yang terdiri dari Riyan dan dua orang lainnya. Namun, tak
ada angin tak ada hujan Riyan tertuduh mencuri uang itu. Rasa tak terima, marah,
dan kesal berkecambuk dihatinya. Walaupun dia mencoba menjelaskan tapi tak
digubris oleh para Mu’allim. Karena masalah ini, ia pun akhirnya memutuskan
kabur dari ponpes. Di tengah malam yang sepi, tanpa sepengetahuan para santri
lain ataupun Mu’allim, ia mengendap – endap dan mencoba keluar dari pondok yang
hanya membuatnya terkurung tersebut, rasa bebas dan rasa amarah akan kejadian
yang tengah melandanya seakan menguasai relung jiwanya, memakan semua kebaikan
yang baru saja ia perbuat. Ia menunggu bus yang datang, setelah cukup lama
penungguan itu, akhirnya bus yg ditunggunya datang dan langsung saja ia naik
bus tersebut guna meninggalkan lingkungan yang memandangnya seperti pencuri itu.
Setelah menempuh cukup jauh perjalanan, sampailah ia disebuah tempat yang tak
pernah ia ketahui. Di tempat itu hanya ada sekelompok tukang ojek yang tengah
asiknya bermain kartu remi ditengah sepinya malam. Ketika itu ia menanyakan
jalan kepada mereka, namun hal buruk pun terjadi ketika mereka mencoba untuk
merampas barang bawaannya. Namun datanglah seorang nenek tua yang mencoba untuk
menolongnya. Akhirnya ia pun diajak oleh sang nenek tua itu untuk menginap di
gubuknya untuk sementara waktu. Si nenek tua itu pun menceritakan jikalau
tukang ojek tadi sebenarnya adalah para pencopet yang biasa menyamar menjadi
tukang ojek untuk mencari mangsanya di malam hari. Dan ia pun menceritakan awal
mula ia bisa sampai ditempat itu kepada nenek tua tersebut. Nenek tersebut
sangatlah ramah dan baik hati. Esok harinya Riyan pun berpamitan kepada nenek
itu untuk kembali ke pesantren lagi, karena ia menyesali apa yang telah ia
perbuat meskipun rasa tak terima akan tuduhan itu masih membayanginya. Akhirnya
ia pun memberanikan diri kembali ke ponpes.
Sama seperti Arie, salah satu teman
pertamanya yang baik terhadapnya serta rajin. Kini ia menemukan seorang sahabat
lagi bernama Ridwan. Ridwan adalah seorang sahabat yang rendah hati dan rela
membantu. Sudah beberapa minggu ia dibimbing di ponpes itu, sehingga
memunculkan kesadarannya atas perbuatan buruk yang dahulu diperbuatnya. Ia bertaubat mengharapkan pengampunan Allah Swt,
meskipun candu minuman keras itu masih selalu menggelayutinya. Sampai suatu
ketika, Mu’allim Rowi tengah berbincang denganya dan mengungkapkan jikalau masa
lalu dia sama seperti masa lalunya bahkan lebih buruk, dan tanpa ia sadari
sebenarnya sampai saat ini pun Mu’allim Rowi masih mengkonsumsi minuman itu,
dan bahkan mencoba memperdaya Riyan yang tengah dalam proses pendekatan diri
pada Yang Maha Kuasa. Dengan tipu dayanya, Mu’allim Rowi mencoba untuk menggoda
dan menjerumuskan Riyan kejalan hitam yang dahulu pernah ia lewati. Mu’allim
Rowi menawarkan barang haram itu kepada Riyan, pertama ia hanya membuka tutup
botolnya dan membujuknya agar Riyan mau meminumnya. Riyan pun sempat mengelak
dan berlari menjauh darinya. Namun, kejadian suatu malam membuatnya terusik
ketika teman – temanya tengah tertidur pulas. Ia mendengar suara samar – samar
yang berasal dari suatu ruangan, dan setelah ia dengarkan ternyata itu adalah
suara Mu’allim Rowi dan seorang temanya. Waktu itu ia mencoba memergoki
Mu’allim Rowi dan temanya yang tengah mengonsumsi tuak tersebut, namun naasnya
Riyan malah menjadi sasaran empuk mereka, dan mau tidak mau Riyan harus ternoda
kembali oleh ganasnya candu minuman keras tersebut.
Keesokan harinya, disaat kegiatan di
pondok pesantren tengah berlangsung, Riyan dikagetkan oleh kedatangan sang
Bapak. Sang Bapak datang untuk menjenguknya dan mengetahui kondisinya saat ini.
Riyan menyambut dengan hangat kedatangan Bapaknya tersebut, dengan perilaku
yang kini mulai membaik Riyan pun tak canggung lagi untuk berkomunikasi kembali
dengan orang yang telah berjasa dalam hidupnya meskipun sudah sebulan lebih ia
tak pernah bertatap muka dengan beliau. Namun, satu masalah yang kini mengusik
hatinya. Akan dosa yang kemarin ia lakukan, ia merasa bersalah karena mudah
terbujuk oleh rayuan setan yang ditebarkan melalui Mu’allim Rowi, untuk
mengonsumsi minuman haram tersebut lagi. Ia tak ingin mengecewakan hati sang
Bapak ataupun menodai kepercayaanya, dengan perasaan yang bercampur aduk ia
mencoba menyembunyikan hal tersebut. Ketika itu sang Bapak pun memberitahu
Riyan perihal teman - temannya dahulu
yang juga seorang pecandu tuak. Bapaknya mengabarkan bahwa mereka telah
berhasil diringkus oleh polisi, dan banyak dari mereka yang mati sia” setelah
menenggak minuman tersebut. Riyan pun sempat miris mendengar berita dari
Bapaknya, namun ia pun juga bersyukur karena kini ia telah terselamatkan dari
lingkungan hina tersebut.
Setelah beberapa Bulan ia melewati
masa – masa kritis perubahan moralnya di dalam pondok pesantren, banyak sekali
perubahan pribadi yang ia rasakan. Dari yang sebelumnya buruk kini telah
berangasur membaik, dari yang awalnya hitam legam kini sudah beranjak memutih.
Itulah pribadi Riyan saat ini. Bahkan teman Riyan di kelas 3 Intensif E, Indra
pun memuji perubahan sikap Riyan setelah tuga bulan lebih ia tinggal di lingkungan
yang telah merawat, mendidik, dan membimbingnya untuk menemukan diri-Nya dan
mendekatkan diri pada-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar