Selasa, 18 Maret 2014

Cerpen ( Kehilangan ) by Hary Widi


CERPENKU

     KEHILANGAN

Pagi yang indah untuk jiwa yang cerah, sang mentari mulai bangun dari tidur lelapnya dan seakan menyapa siapapun yang memandanginya. Hari itu adalah hari istimewa bagi umat muslim diseluruh dunia, suasana  bahagia terpancar dari raut wajah setiap umat muslimin dan muslimah yang telah berhasil melalui perang batin selama sebulan penuh.Tanpa disangka dan diduga, hari yang mereka tunggu – tunggu akhirnya tiba.Tidak lain dan tidak bukan adalah Hari Raya Idul Fitri, yaitu hari kemenangan sekaligus hari pembuktian hasil ibadah dan amal para umat muslim. Hari itu tak mungkin terlewatkan bagi mereka, tak terkecuali bagi kedua orang tuaku yang memiliki berlipat ganda kebahagiaan. Karena, hari bahagia itupun akan terasa sia-sia  bagi mereka bila dilewatkan begitu saja tanpa mengambil suatu kesempatan, tentunya kesempatan di bidang ekonomi. Kedua orang tuaku waktu itu menggeluti usaha kecil – kecilan tepatnya usaha berjualan dan memproduksi kue.
Bila ditengok ke belakang, memang suatu hal yang tak mengherankan bagiku, karena di tahun – tahun sebelumnya mereka juga memanfaatkan momen ini untuk bekerja keras menyambung hidup. Sebagai anak, akupun patut membantu mereka. Walaupun terkadang perasaan terkekang sering membara dibenakku, tapi ragaku mencoba untuk menepisnya jauh – jauh serta serasa inginku membuangnya ke laut lepas agar tenggelam ke palung laut yang dalam. Karena mau bagaimanapun, aku adalah anak mereka dan hal yang wajar bila mereka menuntut balik kepadaku atas segala daya dan upaya yang telah rela mereka korbankan untuk menyambung hidup kami.
Beralih dari kondisi tersebut. Ketika itu jarum jam dindingku menunjukkan pukul 05.30, dengan rambut dan bagian tubuh lain yang basah oleh sisa air wudhu, dengan atasan baju koko dan bawahan sarung, kusambut tangan halus kedua orangtuaku.
“Pak…Buk…, aku berangkat ya?”. Tanyaku.
“Ya nak… hati-hati dijalan lho?”. Jawab Ibuku.
“Yang khusyuk shalatnya!”. Sahut Ayahku.
“Iya, Assalamualaikum wr.wb”. Sahutku sambil bergegas melangkahkan kakiku keluar rumah.
“Waalaikumsalam wr.wb”. Jawab kedua orang tuaku, yang memang waktu itu tidak menunaikan ibadah shalat Idul Fitri.
 Dengan langkah pelan tapi pasti serta sembari merangkul kedua bahu adikku, akupun menelusuri jalan ke Masjid Al-Manshur yang berlokasi diseberang jalan gapura desaku. Dan disisi lain, Ayahku tengah bersiap – siap untuk berangkat memeras keringatnya yaitu di tempat yang cukup strategis menurut para pedagang keliling ataupun kaki lima. Yaitu di pelabuhan utama bus di Kabupaten Tuban. Setelah semalam suntuk aku membantu mereka, akhirnya kulepaskan semua penat yang melanda tubuhku hari itu juga dan kesempatan untuk bersilaturahmi kepada sanak saudara ataupun para tetanggaku takku sia-siakan begitu saja.
Sesampainya dirumah, dengan badan yang berkucuran peluh tapi sekaligus dengan kantong saku celanaku yang lumayan penuh.
Waduh…asik nih…lumayan buat jajan”. Celotehku sendiri..
Nampaknya raut wajahku pada waktu itu begitu riangnya sampai tak terbendung. Disamping aku dapat bersilaturahmi dan mempererat tali persaudaraan umat islam, tentunya aku juga riang karena kantongku yang sesak oleh uang. Bagiku yang waktu itu belum pernah memegang uang sebanyak itu, memang kuanggap suatu pencapaian yang  fantastic.
Beralih kondisi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 12 tepat, dan anehnya akupun baru ingat jikalau hari itu hari jumat.
“Lho iya, sekarang kan hari jumat? Aduh kok bisa lupa sih!”.Celetukku.
 “Iya, cepet berangkat shalat jumat sana! Udah adzan tuh!”.Sahut Ibuku.
 “OK.. Ibuku sayang…”. Jawabku sambil melebarkan senyuman.
Akupun bergegas merengkuh sarungku dan pergi ke masjid terdekat dengan mengenakan baju baruku.
            “Berangkat Buk…,Assalamualaikum wr.wb”.
            “Waalaikusalam wr.wb”. Sahut Ibuku.
 Sepulangnya, nampak Ibuku tengah berdiri di depan pintu dengan kantong plastik yang penuh dengan kue. Aku tahu kalau didalam plastik itu ada kue, karena plastiknya berwarna putih sehingga mataku masih sanggup untuk mengidentifikasinya.
“Ada apa Buk, kog berdiri di depan pintu sih? Bawa apaan itu ?”. Tanyaku sambil berpura-pura tidak tahu.
“Ini lho Her, Ayahmu dagangannya laris manis dan masih butuh stok barang lagi”. Sahut Ibuku.
            “Oh… bagus dong Buk?”. Sahutku sembari melebarkan senyuman.
“Iya bagus!, tapi Ibu minta tolong dianterin lagi kuenya ke Ayahmu sana? Mau apa tidak?”. Tanya Ibuku sembari menyodorkan bungkusan itu kehadapanku.
Akhirnya akupun bergegas mengganti baju dan celanaku. Dengan membawa uang sekitar 10ribuan, akupun berangkat ke Jalan Hos. Cokroaminoto yang biasanya dibuat ngetem angkot kuning. Sialnya, waktu itu takada satupun angkot yang lewat dihadapan mataku.
“Haduh! Dimana ini si angkot kuning dari tadi belum muncul juga?”. Celotehku sembari mengelus-elus kepala.
 Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya datang juga angkotnya. Akupun bergegas naik dan merasa takmau bila didahului oleh penumpang lain.
Berpindah kondisi. Saat itu, aku turun dari angkot dan menyodorkan uang sebesar 2ribu rupiah kepada Pak supir.
“Niki Pak arthanipun...”. Ucapku menggunakan logat bahasa Jawa.
“Oh..., ngih Nak, matur suwun”. Sahut Bapak tersebut.
“Ngih Pak, sami-sami”. Jawabku dengan nada pelan.
Dengan enjoy seperti tanpa beban akhirnya kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana Ayahku berada. Raut wajah yang berseri terpancar dari wajah Ayahku. Entah karena karena kedatanganku ataupun karena daganganya ludes terjual.
“Pak, ini bungkusan berisi kue dari Ibu”. Ucapku sembari menyodorkan bungkusan itu kepada Ayahku.
“Iya Her, doain Bapak semoga laris lagi dagangannya”. Sahut Ayahku.
“Ok Pak, semoga tiada sebungkuspun yang tersisa!”. Jawabku sembari tertawa ringan.
“Sudah,  kamu pulang dulu sana!”. Perintah ayahku.
“Iya, Bapak..., Assalamualaikum wr.wb”. Sahutku sembari menyambut tangan kanan ayahku.
“Waalaikusalam wr.wb”. Jawab ayahku.
Perlahan tapi pasti, kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana aku turun dari angkot waktu itu. Kurogoh kantong sakuku, kuselempitkan jari – jariku keseluruh kantong sakuku guna mencari keberadaan si uang. Raut muka yang pucat pasi menyeruak diwajahku. Aku baru sadar waktu itu ternyata uang yang kubawa ludes tanpa sisa.
“Astagfirullahhaladzim..., dimanakah semua uangku?”. Celetukku.
“Apakah tadi jatuh waktu kusodorkan uangnya ke supir angkot itu? Ataukah jatuh ketika duduk di dalam angkot?”. Tanya dalam hatiku.
Aku tak tahu uang – uangku itu hilang dimana. Kutengok ke tempat Ayahku, tapi waktu itu Ayahku telah meninggalkan tempatnya dan entah kemana perginya. Kucoba telusuri jalan disekitar tempatku turun dari angkot, tetapi hasilnya nihil. Perasaan sedih, gundah, susah, dan kaget bercampur baur layaknya gado – gado, waktu itu. Dengan semua perasaan itu akhirnya kubulatkan tekad untuk melangkahkan kakiku sejalur arah  rumahku, yang kurang lebih jaraknya 5km dari tempat itu.
Setelah beberapa jam berlalu yang ku gunakan untuk berjalan kaki, akhirnya sampai juga aku di rumah. Dengan langkah yang tertatih, kucoba memasuki rumah secara perlahan. Lalu kucoba ceritakan semua yang terjadi kepada Ibuku.
“Assalamualaikum wr.wb?”. Ucapku dengan raut muka memelas.
“Waalaikumsalam wr.wb, ada apa kog murung?. Sahut ibuku yang kemudian bertanya.
“Tidak ada apa-apa Buk.., hanya capek jalan kaki dari sana ke sini”. Jawabku dengan nafas terengah-engah.
“Hah..., apa? Jalan?Lha kog bisa?”. Tanya Ibuku terheran-heran.
“Itu lho Buk..., uangku hilang. Entah hilangnya dimana, tak tahu aku?”. Sahutku dengan kesal.
“Hehehehe... , lucu kamu ini?Kog bisa, ya telepon atau sms Ibuk kan bisa?”. Ibuku malah tertawa dengan riangnya.
“Tidak punya pulsa Buk, tak tahu sial benar aku hari ini”. Sahutku sambil menggeleng-gelengkan kepala sembari mengusap peluhku.
Perasaan lega bercampur kesal membuncah di hatiku. Leganya karena telah menginjak tempat tinggalku dan kesalnya akibat Ibuku yang tega menertawaiku. Peristiwa tersebut pasti akan selalu teringat di memori otakku sebagai saksi bisu perjalanan hidupku. Dan sebagai kenangan yang takkan pernah terulang kembali.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar