CERPENKU
KEHILANGAN
Pagi
yang indah
untuk jiwa yang cerah,
sang mentari mulai bangun dari tidur lelapnya dan seakan menyapa siapapun yang
memandanginya. Hari itu adalah hari istimewa bagi umat muslim diseluruh dunia,
suasana bahagia terpancar dari raut
wajah setiap umat muslimin dan muslimah yang telah berhasil melalui perang
batin selama sebulan penuh.Tanpa disangka dan diduga, hari yang mereka tunggu –
tunggu akhirnya tiba.Tidak lain dan tidak bukan adalah Hari Raya Idul Fitri,
yaitu hari kemenangan sekaligus hari pembuktian hasil ibadah dan amal para umat
muslim. Hari itu tak mungkin terlewatkan bagi mereka, tak terkecuali bagi kedua
orang tuaku yang memiliki berlipat ganda kebahagiaan. Karena, hari bahagia
itupun akan terasa sia-sia bagi mereka
bila dilewatkan begitu saja tanpa mengambil suatu kesempatan, tentunya
kesempatan di bidang ekonomi. Kedua orang tuaku waktu itu menggeluti usaha
kecil – kecilan tepatnya usaha berjualan dan memproduksi kue.
Bila
ditengok ke belakang, memang suatu hal yang tak mengherankan bagiku, karena di
tahun – tahun sebelumnya mereka juga memanfaatkan momen ini untuk bekerja keras
menyambung hidup. Sebagai anak, akupun patut membantu mereka. Walaupun
terkadang perasaan terkekang sering membara dibenakku, tapi ragaku mencoba
untuk menepisnya jauh – jauh serta serasa inginku membuangnya ke laut lepas
agar tenggelam ke palung laut yang dalam. Karena mau bagaimanapun, aku adalah
anak mereka dan hal yang wajar bila mereka menuntut balik kepadaku atas segala
daya dan upaya yang telah rela mereka korbankan untuk menyambung hidup kami.
Beralih
dari kondisi tersebut. Ketika itu jarum jam dindingku menunjukkan pukul 05.30,
dengan rambut dan bagian tubuh lain yang basah oleh sisa air wudhu, dengan
atasan baju koko dan bawahan sarung, kusambut tangan halus kedua orangtuaku.
“Pak…Buk…,
aku berangkat ya?”. Tanyaku.
“Ya
nak… hati-hati dijalan lho?”. Jawab Ibuku.
“Yang khusyuk
shalatnya!”. Sahut Ayahku.
“Iya,
Assalamualaikum wr.wb”. Sahutku sambil bergegas melangkahkan kakiku keluar
rumah.
“Waalaikumsalam
wr.wb”. Jawab kedua orang tuaku, yang memang waktu itu tidak menunaikan ibadah
shalat Idul Fitri.
Dengan langkah pelan tapi pasti serta sembari
merangkul kedua bahu adikku, akupun menelusuri jalan ke Masjid Al-Manshur yang
berlokasi diseberang jalan gapura desaku. Dan disisi lain, Ayahku tengah bersiap
– siap untuk berangkat memeras keringatnya yaitu di tempat yang cukup strategis
menurut para pedagang keliling ataupun kaki lima. Yaitu di pelabuhan utama bus
di Kabupaten Tuban. Setelah semalam suntuk aku membantu mereka, akhirnya
kulepaskan semua penat yang melanda tubuhku hari itu juga dan kesempatan untuk
bersilaturahmi kepada sanak saudara ataupun para tetanggaku takku sia-siakan
begitu saja.
Sesampainya
dirumah, dengan badan yang berkucuran peluh tapi sekaligus dengan kantong saku
celanaku yang lumayan penuh.
“Waduh…asik
nih…lumayan buat jajan”. Celotehku
sendiri..
Nampaknya raut wajahku
pada waktu itu begitu riangnya sampai tak terbendung. Disamping aku dapat
bersilaturahmi dan mempererat tali persaudaraan umat islam, tentunya aku juga
riang karena kantongku yang sesak oleh uang. Bagiku yang waktu itu belum pernah
memegang uang sebanyak itu, memang kuanggap suatu pencapaian yang fantastic.
Beralih
kondisi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 12 tepat, dan anehnya akupun baru
ingat jikalau hari itu hari jumat.
“Lho
iya, sekarang kan hari jumat? Aduh kok bisa lupa
sih!”.Celetukku.
“Iya, cepet berangkat shalat jumat sana! Udah
adzan tuh!”.Sahut Ibuku.
“OK.. Ibuku sayang…”. Jawabku sambil melebarkan senyuman.
Akupun bergegas
merengkuh sarungku dan pergi ke masjid terdekat dengan mengenakan baju baruku.
“Berangkat Buk…,Assalamualaikum wr.wb”.
“Waalaikusalam wr.wb”. Sahut Ibuku.
Sepulangnya, nampak Ibuku tengah berdiri di
depan pintu dengan kantong plastik yang penuh dengan kue. Aku tahu kalau
didalam plastik itu ada kue, karena plastiknya berwarna putih sehingga mataku
masih sanggup untuk mengidentifikasinya.
“Ada
apa Buk, kog berdiri di depan pintu sih? Bawa apaan itu ?”. Tanyaku
sambil berpura-pura tidak tahu.
“Ini
lho Her, Ayahmu dagangannya laris manis dan masih butuh stok barang lagi”. Sahut
Ibuku.
“Oh… bagus dong Buk?”. Sahutku sembari melebarkan senyuman.
“Iya
bagus!, tapi Ibu minta tolong dianterin lagi kuenya ke Ayahmu sana? Mau apa
tidak?”. Tanya Ibuku sembari
menyodorkan bungkusan itu kehadapanku.
Akhirnya akupun
bergegas mengganti baju dan celanaku. Dengan membawa uang sekitar 10ribuan,
akupun berangkat ke Jalan Hos. Cokroaminoto yang biasanya dibuat ngetem
angkot kuning. Sialnya, waktu itu takada satupun angkot yang lewat dihadapan
mataku.
“Haduh!
Dimana ini si angkot kuning dari tadi belum muncul juga?”. Celotehku sembari mengelus-elus
kepala.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya
datang juga angkotnya. Akupun bergegas naik dan merasa takmau bila didahului
oleh penumpang lain.
Berpindah
kondisi. Saat itu, aku turun dari angkot dan menyodorkan uang sebesar 2ribu
rupiah kepada Pak supir.
“Niki
Pak arthanipun...”. Ucapku
menggunakan logat bahasa Jawa.
“Oh...,
ngih Nak, matur suwun”. Sahut
Bapak tersebut.
“Ngih
Pak, sami-sami”. Jawabku dengan
nada pelan.
Dengan enjoy seperti tanpa beban akhirnya
kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana Ayahku berada. Raut wajah yang berseri
terpancar dari wajah Ayahku. Entah karena karena kedatanganku ataupun karena
daganganya ludes terjual.
“Pak,
ini bungkusan berisi kue dari Ibu”. Ucapku sembari menyodorkan bungkusan itu kepada Ayahku.
“Iya
Her, doain Bapak semoga laris lagi dagangannya”. Sahut Ayahku.
“Ok
Pak, semoga tiada sebungkuspun yang tersisa!”. Jawabku sembari tertawa ringan.
“Sudah, kamu pulang dulu sana!”. Perintah ayahku.
“Iya,
Bapak..., Assalamualaikum wr.wb”. Sahutku sembari menyambut tangan kanan ayahku.
“Waalaikusalam
wr.wb”. Jawab ayahku.
Perlahan
tapi pasti, kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana aku turun dari angkot
waktu itu. Kurogoh kantong sakuku, kuselempitkan jari – jariku keseluruh
kantong sakuku guna mencari keberadaan si uang. Raut muka yang pucat pasi
menyeruak diwajahku. Aku baru sadar waktu itu ternyata uang yang kubawa ludes
tanpa sisa.
“Astagfirullahhaladzim...,
dimanakah semua uangku?”. Celetukku.
“Apakah
tadi jatuh waktu kusodorkan uangnya ke supir angkot itu? Ataukah jatuh ketika
duduk di dalam angkot?”. Tanya
dalam hatiku.
Aku tak tahu uang –
uangku itu hilang dimana. Kutengok ke tempat Ayahku, tapi waktu itu Ayahku telah meninggalkan tempatnya dan entah
kemana perginya. Kucoba telusuri jalan disekitar tempatku turun dari angkot,
tetapi hasilnya nihil. Perasaan sedih, gundah, susah, dan kaget bercampur baur
layaknya gado – gado, waktu itu. Dengan semua perasaan itu akhirnya kubulatkan
tekad untuk melangkahkan kakiku sejalur arah rumahku,
yang kurang lebih jaraknya 5km
dari tempat itu.
Setelah
beberapa jam berlalu yang ku gunakan untuk berjalan kaki, akhirnya sampai juga
aku di rumah. Dengan langkah yang tertatih, kucoba memasuki rumah secara
perlahan. Lalu kucoba ceritakan semua yang terjadi kepada Ibuku.
“Assalamualaikum
wr.wb?”. Ucapku dengan raut
muka memelas.
“Waalaikumsalam
wr.wb, ada apa kog murung?. Sahut
ibuku yang kemudian bertanya.
“Tidak
ada apa-apa Buk.., hanya capek jalan kaki dari sana ke sini”. Jawabku dengan nafas terengah-engah.
“Hah...,
apa? Jalan?Lha kog bisa?”. Tanya
Ibuku terheran-heran.
“Itu
lho Buk..., uangku hilang. Entah hilangnya dimana, tak tahu aku?”. Sahutku dengan kesal.
“Hehehehe...
, lucu kamu ini?Kog bisa, ya telepon atau sms Ibuk kan bisa?”. Ibuku malah tertawa dengan riangnya.
“Tidak
punya pulsa Buk, tak tahu sial benar aku hari ini”. Sahutku sambil menggeleng-gelengkan kepala sembari
mengusap peluhku.
Perasaan lega bercampur kesal membuncah di hatiku. Leganya karena telah menginjak tempat tinggalku dan
kesalnya akibat Ibuku yang tega menertawaiku. Peristiwa tersebut pasti akan
selalu teringat di memori otakku sebagai saksi bisu perjalanan hidupku. Dan
sebagai kenangan yang takkan pernah terulang kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar